Langkahmu makin berat...jiwamu mesti kuat..Life is a long journey, so...make the most it!
Saturday, April 21, 2012
Bagaimana Menambah Nikmat Allah
Merealisasikan Misi Dakwah
Ada tiga (3) misi yang bersifat "Pemberian dari Allah" yang mesti dipikul oleh manusia :
1. Misi utama untuk beribadah.
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu". (QS Az-Zariaat : 56)
2. Misi fungsi sebagai khalifah.
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS Al Baqarah : 30)
3. Misi pengoperasian untuk memakmurkan bumi Allah.
Namun secara haikikinya, tidak semua manusia mengikuti dan menerima seruan para Rasul, bahkan sebahagian besar dari manusia ini mendustakan dan mengingkari risalah Ilahiyah yang dibawa oleh mereka.
Allah swt berfirman :
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): `Sembahlah Allah (sahaja), dan jauhilah Thaghut itu', maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS An-Nahl: 36)
Maka, manusia yang mampu menterjemahkan tiga misi tersebut ke dalam bahasa :
a. Lisan.
b. Sikap.
c. Tindakan.
adalah manusia yang beriman kepada Allah swt.
Manusia yang sentiasa menyahut seruan dan perancangan rabbani dengan hanya mengucapkan kalimat ini :
"sami'naa wa atho'naa" iaitu "kami dengar dan kami taat".
Inilah syi'ar kehidupan manusia qur'ani dan rabbani iaitu hamba-hamba Allah yang akan dijanjikan kepada mereka "kekuasaan" di bumiNya.
Allah swt berfirman :
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan "Kami mendengar dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS An-Nur : 51)
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik." (QS An-Nur : 55)
Berdasarkan ayat-ayat di atas, kita boleh membuat kesimpulan bahwa umat Islamlah yang diberi beban amanah Ilahiyah dan yang sanggup melaksanakannya dalam seluruh dimensi kehidupan.
Maka umat Islamlah yang sepatutnya :
1. Memimpin dunia.
2. Berkewajiban mengajarkan manusia tentang sistem ilahiah.
3. Membimbing manusia untuk melakukan penerapan sistem Islam dalam kehidupan secara sepenuhnya sehingga mereka benar-benar mampu keluar dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam.
Renungkan apa yang telah dikatakan oleh seorang Panglima tentera Islam, Rub'ie bin Amir kepada Rustum, panglima Parsi dalam perang Qadisiyah, ketika ia bertanya :
"Gerangan apakah yang membuatkan Kamu datang ke negeri kami?"
Lalu ia menjawab dengan kalimat ini :
"Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia yang dikehendakiNya dari penghambaan hamba menuju pengabdian kepada Allah semata-mata, dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam."
Oleh kerana itu, tugas ini bukanlah tugas yang ringan dan bersifat juzi'yyah atau sampingan tanpa disusuli dengan usaha-usaha yang maksima.
Namun tugas atau dakwah ini merupakan urusan yang besar dan agung iaitu urusan yang berkaitan dengan :
a. Pembentukan Syakshiah Islamiyah.
b. Kelestarian sistem-sistem Ilahiyah.
c. Kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.
Sayyid Qutb mengatakan dalam tafsirnya Fii Zhilaalil Qur'an :
"Barangsiapa menganggap ringan kewajiban (dakwah) ini, padahal ia merupakan kewajiban yang dapat mematahkan tulang punggung dan membuatkan orang gementar, maka ia tidak mampu melaksanakan secara berterusan kecuali atas pertolongan Allah. Ia tidak akan mampu memikul dakwah kecuali atas bantuan Allah swt dan tidak akan mampu teguh di atasnya kecuali dengan keikhlasan padaNya. Orang yang berada di jalan ini siangnya berpuasa, malamnya qiyam (solat) dan ucapannya penuh dengan zikir. Sungguh hidup dan matinya hanya untuk Allah Rabbal Alamin, yang tiada sekutu bagiNya."
Bagi menjayakan amanah yang agung ini, diperlukan manusia-manusia yang memiliki:
1. Iman yang kuat.
2. Keikhlasan yang tidak dicemari hawa nafsu.
3. Semangat yang membara.
4. Pengorbanan.
5. Amal yang berterusan.
sehingga nilai-nilai kebenaran Islam yang terdapat dalam kafilah dakwah benar-benar direalisasikan dan dapat dirasakan oleh semua manusia.
Imam Hasan Al-Banna dalam "Risalah kepada pemuda" berkata :
"Sungguh, fikrah ini boleh berjaya apabila ada iman yang kuat, keikhlasan yang penuh di jalannya, semangat yang membara dan adanya persiapan yang melahirkan pengorbanan dan amal untuk merealisasikannya. Dan hampir-hampir empat tiang penyangga ini (iman, ikhlas, semangat dan amal) merupakan karakteristik bagi para pemuda. Ini adalah kerana :
b. Asas keikhlasan adalah hati yang bertaqwa.
c. Asas semangat adalah perasaan yang menggelora.
d. Asas amal adalah kemahuan yang kuat."
KEPENTINGAN BERDAKWAH
Berdakwah adalah suatu tugas yang bertujuan dan berorientasi kepada :
1. Perbaikan individu muslim.
2. Pembentukan keluarga muslim.
3. Pembinaan masyarakat Islam.
4. Pembebasan tanah air dari penguasaan asing.
5. Pengishlahan pemerintah agar menjadi pemerintahan Islam yang sentiasa memperhatikan kemaslahatan umat.
6. Menjadi "ustaziatul `alam" (pelopor dunia).
yang juga merupakan penerusan dari risalah para Nabi dan Rasul di mana setiap Rasul berkewajiban mendakwahkan apa-apa yang telah diterimanya sebagai wahyu dari Allah kepada umatnya. Ia mesti menyampaikan risalah Ilahiyah ini dengan penuh :
a. Amanah.
b. Kejujuran.
c. Kecerdasan.
d. Kesabaran.
di tengah-tengah masyarakatnya.
Allah swt berfirman :
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah (sahaja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS An-Nahl : 36)
"Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izinNya dan untuk jadi cahaya yang menerangi". (QS Al-Ahzab : 45-46)
Berdakwah juga merupakan kewajiban syar'ie yang mesti dilakukan oleh setiap umat Islam berdasarkan beberapa dalil berikut ini :
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung". (QS Ali Imran : 104)
Ayat ini secara jelas menunjukkan wajibnya berdakwah, kerana ada "lam amr" pada kalimat "wal takun".
Begitu juga Rasulullah saw bersabda :
"Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat."
Hadits ini secara eksplisit mengisyaratkan bahwa setiap muslim mesti menyampaikan apa-apa yang telah di bawa oleh Rasulullah saw kepada seluruh manusia, walaupun hanya satu ayat ataupun satu hadits.
"Mengapa orang-orang alim mereka, pendita-pendita mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu." (QS Al-Maidah : 63)
Ibnu Jarir at-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa ia berkata :
"Tidak ada di dalam Al-Qur'an suatu ayat yang lebih keras mengolok-olok daripada ayat ini." (Tafsir Ibnu Jarir).
Sedangkan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Yahya bin Ya'mar, ia berkata :
"Ali bin Abi Thalib pernah berkhutbah, setelah memuji Allah dan menyanjungNya, ia berkata ;
"Wahai manusia, sesungguhnya umat sebelum kamu itu hancur disebabkan mereka berbuat maksiat sedangkan orang-orang alim dan para pendita mereka tidak melarangnya sampai akhirnya ditimpa siksa di saat mereka terus menerus asyik dalam kemaksiatannya. Oleh kerana itu, perintahkanlah mereka untuk berbuat ma'ruf dan cegahlah mereka dari kemungkaran sebelum turun azab seperti yang turun kepada mereka. Ketahuilah bahwasanya amar ma'ruf dan nahi mungkar itu tidak akan memutuskan rezeki dan tidak pula mendekatkan ajal." (Tafsir Ibnu
Katsir)
Berkaitan dengan masalah ini, Allah juga menggambarkan fenomena masyarakat mu'min yang sentiasa melakukan kerjasama dan amar ma'ruf nahi munkar di antara mereka.
Allah swt berfirman :
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan solat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS At-Taubah : 71)
Sebagaimana dakwah itu merupakan kewajiban syar'ie, ia juga merupakan keperluan masyarakat kerana hanya dengan dakwahlah :
a. Masyarakat mampu memahami nilai-nilai kebenaran Islam.
b. Mampu membezakan antara yang hak dan yang batil.
c. Mereka dapat melaksanakan ajaran Islam ini melalui sentuhan lembut tangan para pendakwah yang bijak, para penunjuk jalan yang teguh dan para mubaligh yang sabar.
Dakwah merupakan :
1. Muara segala kebaikan.
2. Benteng penangkal siksa.
3. Jentera yang menghantarkan doa para hamba naik ke langit kepada Rabbnya.
Rasulullah saw bersabda :
"Demi Zat yang mana jiwaku ada pada TanganNya, sungguh kamu mesti melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar atau Allah akan menimpakan kepada kamu azab, kemudian kamu berdoa maka doa itu tidak akan dikabulkan." (HR Tirmizi)
Jadi, jelaslah bahwasanya setiap muslim yang sedar dengan identitinya, ia mesti mengambil bahagian dalam memikul amanah dakwah ini.
Imam Syafi'ie dalam antologi puisinya berkata :
"Siapa yang tidak mahu ta'lim (dakwah / membina) pada masa mudanya, maka takbirkan kepadanya empat kali takbir. Kerana ia telah mati (sebelum ia mati)."
Begitu juga Imam Hasan Al-Banna menginginkan manusia-manusia yang kuat dari kalangan pemuda atau orang tua yang berjiwa muda sahaja dalam memikul amanah dakwah yang berat ini.
Dalam risalah "Dakwah kami di era baru" beliau berkata :
"Kami menginginkan :
a. Jiwa-jiwa yang hidup, kuat dan teguh.
b. Hati-hati yang segar serta semangat berkobar-kobar.
c. Emosi-emosi yang membara dan menggelora.
d. Ruh-ruh yang memiliki sikap optimis serta melihat jauh ke depan yang merindukan wujudnya nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang mulia."
Maka oleh sebab itu, setiap ucapan, gerakan dan tindakan seorang aktivis yang telah bergabung dalam dakwah ini mesti benar-benar mencerminkan nilai-nilai Islam dan mesti mampu menjadi tarikan Islam di tengah-tengah masyarakatnya.
Ya Allah, bantulah kami untuk kami mampu merealisasikan tiga misi utama kehadiran kami di dunia ini. Jadikanlah kami pemikul-pemikul risalahMu yang menerangkan kepada seluruh manusia akan keunggulan risalah Islam ini, memimpin dunia dan membimbing manusia untuk menerapkan sistem Islam dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Menyelami Feqh Dakwah
Apabila :
1. Aqidah sudah menyentuh hati.
2. Iman telah menyelinap ke dalam jiwa.
3. Keperibadian sudah mencapai darjat yang utama.
Maka umat pun akan menjadi baik dan Daulah Islamiah akan tegak.
Oleh kerana itulah, Islam mensasarkan perhatian yang besar terhadap peningkatan kualiti peribadi, samada dari sudut :
a. Aqidah.
b. Kefahaman.
c. Pentarbiyahan.
Ini semua agar menjadi contoh hidup yang nyata dan lampu penerang bagi pencari hidayah dan kebenaran.
Usaha ini dimulai dengan menyampaikan pengertian dakwah yang bersepadu dan sempurna kepada hati setiap muslim pada masa kini.
Suatu masa dulu, Islam telah dikotori oleh berbagai macam gelombang pemikiran yang menyesatkan, menyeleweng dan mengacau suara kebenaran.
Perkara ini semakin menjadi parah apabila berlakunya perselisihan yang tajam dan tingkat kejahilan terhadap hakikat Islam yang menimpa dunia Islam.
Maka sudah menjadi suatu kemestian untuk memotivasi para pelaksana dakwah fardiyah untuk melakukan analisa secara kritikal bagi membantu mengenali secara jelas setiap orang yang hendak dijadikan sebagai objek dakwah, samada dari segi :
a. Kejiwaan.
b. Sosial.
Seseorang yang bersedia untuk melakukan dakwah fardiyah mesti menyedari akan pentingnya penghidupan semula aktivis dakwah sehingga perjalanan dakwah dalam rangka membela Islam tidak berhenti.
Seorang pendakwah yang merasa terganggu dan tidak tenang fikirannya dengan keadaan yang menimpa umat Islam ini, terdorong dengan kuat untuk sedar bahawa dakwah mesti produktif dan menghasilkan buahnya.
Seorang pendakwah tidak akan berhasil dalam tugasnya kecuali jika disertai dengan ibadah yang penuh keikhlasan dan penyerahan sepenuhnya kepada Allah swt.
"Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah."(QS Hud : 88)
"Yang demikian itu adalah kurnia dari Allah, dan cukuplah bahawa Allah mengetahui." (QS An-Nisa' : 70)
Seorang pendakwah mesti mengingati kembali kisah sahabat Mush'ab bin Umair.
Ketika beliau diutus oleh Rasulullah saw ke Madinah sebagai pendakwah, beliau ditentang oleh Sa'ad bin Mu'adz. Kemudian As'ad bin Zurarah berkata padanya, "Hai Mush'ab, inilah tokoh kaumnya. Ia telah datang kepadamu, maka jujurlah kepada Allah dalam mendakwahkan kepadanya."
Nampaklah bahawa hasil kerja yang tulus ini yang tercermin dalam akhlak dan perilaku, merupakan salah satu kaedah dakwah yang terpenting.
Kaedah-kaedah dakwah yang penting antara lain :
PERTAMA : DAKWAH TANPA KATA-KATA
Perkara ini tercermin dalam dakwah melalui "qudwah hasanah" (Contoh tauladan yang baik).
Qudwah hasanah adalah model dakwah yang tidak memerlukan penjelasan dan dialog. Ini merupakan cara yang praktikal kerana keyakinan kepada dakwah seperti ini akan melahirkan keyakinan kepada fakta yang konkrit dan realiti yang nyata.
Cara ini lebih cepat membawa orang untuk percaya dan menerima seruan.
Imam Hasan Al-Banna telah menyatakan :
"Kitab yang terletak di perpustakaan sedikit yang membacanya, tetapi seorang muslim sejati adalah 'kitab terbuka' yang semua orang membacanya. Ke mana sahaja ia pergi, ia adalah 'dakwah yang bergerak'."
Allah swt berfirman :
(QS Al-Ahzab : 21)
Oleh kerananya, seorang mahasiswa muslim yang memperolehi prestasi yang istimewa, di samping kedudukannya yang terhormat dan disukai ramai orang pada masa yang sama hal itu merupakan dakwah yang cemerlang dan mampu "berbicara banyak". Demikian juga seorang pegawai, pekerja, atau yang lainnya.
Allah swt berfirman :
"Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hal kamu." (QS Al-Hujurat : 7)
KEDUA : DAKWAH DENGAN KATA-KATA
Dakwah mesti menggunakan kaedah yang syar'i, seperti kata-kata dan penjelasan. Kaedah dakwah mesti bersumber dari nilai-nilai Islam.
Dakwah, sebagai kaedah untuk menanamkan nilai-nilai hati, tidak boleh menggunakan kaedah-kaedah jahiliah. Segala kaedah dan cara mesti sesuai dengan fikrah dan ruh ajaran Islam.
Berapa ramai pemuda yang bersemangat menempuh jalan dakwah fardiyah, tetapi mereka merasa tidak berhasil dan tidak mampu memahami kaedahnya. Itulah di antara hambatan yang menghalangi mereka untuk merealisasikan tujuan.
Di antara rintangan yang menonjol adalah masih terdapatnya pendakwah yang tidak memiliki kapasiti ilmu dan kefahaman yang baik. Boleh jadi ia tersesat, walaupun memiliki kepekaan, keterampilan, dan pandangan yang luas.
Rasulullah saw telah memberi kemudahan dalam hal ini seraya bersabda ;
"Sampaikan dariku walau hanya satu ayat!"
Banyak kata-kata baik yang cukup menarik dan berpengaruh, seperti orang-orang berpengalaman yang mengatakan bahawa :
"Kata-kata itu membawa kebahagiaan" .
Bahkan menyusun kalimat yang tepat merupakan sesuatu yang penting.
Allah swt berfirman :
"Katakanlah (kepada manusia dengan) perkataan yang benar."
Seorang pendakwah, ketika menghadapi sesiapapun, mesti berfikir bahawa seseorang mungkin sahaja tercemar oleh pemikiran-pemikiran kotor yang diwariskan oleh para "thaghut" yang menyebarkan kefahaman sesat tentang orientasi Islam. Oleh kerana itu, janganlah putus asa apabila menghadapi tentangan ini, sebaliknya kita mesti mempersiapkan diri bagi menghadapinya.
Bahkan, kita mesti memaafkan kejahilan mereka tentang hakikat yang tidak mereka ketahui ini. Bila kita memahami hakikat ini, kita mesti bersabar untuk hidup bersama mereka sampai mereka mengetahuinya.
Rasulullah saw telah bersabda :
"Bersikap lunaklah kepada manusia dan bersabarlah bersama mereka!"
Sikap lunak dan kasih sayang dalam kesabaran mendekatkan seseorang pada hakikat yang tidak diketahuinya sehingga apabila mereka memahami dan merasakannya, nescaya akan mengimani dan meyakininya.
Sebuah syair bertutur :
“Barangsiapa memiliki "rasa" Islam, ia memahaminya.
Barangsiapa memahaminya, ia bangkit dengan Rabbnya sebagai tebusan.”
KAEDAH DAKWAH YANG BERBAGAI
Hendaklah difahami bahawa "uslub" (kaedah) dakwah itu berbeza antara seseorang dengan seorang yang lain. Kaedah dakwah juga tidak tetap, malah bergantung kepada :
a. Situasi.
b. Keadaan.
Nah, pengetahuan tentang situasi dan keadaan inilah yang akan menentukan pilihan strategi dan kaedah dakwah yang tepat.
Rasulullah saw pernah didatangi seorang ahli gusti bernama Rukamah, di waktu ia belum masuk Islam. la tidak bertanya kepada Rasulullah saw tentang aqidah atau ibadah tetapi ia mengatakan :
"Bila kamu dapat mengalahkan aku, aku bersedia masuk Islam." Beliau pun menerima cabaran itu, ternyata beliau dapat mengalahkannya. Maka, Rukamah pun masuk Islam.
Hamzah bin Abdul Muthalib baru sahaja pulang dari berburu dan di waktu itu ia belum masuk Islam, tiba-tiba diberitahu bahawa Abu Jahal telah memaki hamun anak saudaranya, Muhammad saw pada ketika beliau sedang duduk di sisi Ka'bah.
Dengan serta merta, Hamzah datang ke Ka'bah lalu memukul kepala Abu Jahal hingga terluka, seraya berkata,
"Mengapa kamu mencela Muhammad, padahal saya penganut agamanya!"
Pada ketika itu juga Hamzah menyatakan, "Saya telah masuk Islam!"
SIKAP OPTIMIS PENUH SENYUMAN DAN LAPANG DADA
Ramai aktivis dakwah yang mengukur penglibatan orang lain dalam kancah dakwah dengan ukuran-ukuran yang sempit dan terbatas.
Seseorang yang tidak mahu mencurahkan semua potensi, waktu dan hartanya, dianggap sebagai sebuah kecacatan.
Di antara mereka ada yang menuduh saudaranya tidak mengetahui masalah kehidupan sosial yang pelik yang sedang dihadapi oleh umat ketika ini.
Ketika seorang "akh" masih berstatus sebagai mahasiswa, ia memiliki waktu untuk dakwah yang secara relatifnya banyak, namun dari segi sumbangan dana, secara relatifnya sedikit.
Setelah lulus dan menjadi pegawai, ia memberikan sumbangan dana lebih besar tetapi memiliki waktu terluang yang lebih sempit untuk dakwah.
Ketika ia berkahwin, nilai harta dan waktu baginya menjadi berkurang.
Bahkan, ketika mempunyai anak, ia tidak dapat memenuhi tugas-tugasnya selain menurut kemampuannya.
Dalam pandangan para aktivis dakwah, sering menjadi satu persepsi bahawa setiap orang mesti mencurahkan segala sesuatu yang dimilikinya, padahal Allah swt berfirman :
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. " (QS Al-Baqarah : 286)
Setiap kali seseorang memberikan dan mencurahkan potensinya, walau seberapa sekalipun, itu akan menjadi simpanan dan persediaan kebaikannya.
Bagaimanapun, sikap ini bukanlah satu fenomena yang umum. Ramai pemuda yang dapat menundukkan halangan-halangan ini sesuai dengan kadar keimanannya terhadap keagungan risalah serta kesedaran terhadap pentingnya amanah dan tanggungjawab terhadap masa depan Islam.
Dakwah menuntut penyertaan setiap muslim sesuai dengan kadar yang tidak sampai menyukarkan kehidupannya. Bahkan yang wajib adalah sebaliknya di mana memang ada yang mencurahkan dan mengorbankan segalanya sehingga bersedia mengganti kedudukan yang lain dan bertahan di barisan depan.
Setiap muslim mesti menyedari bahawa fizikal manusia terdiri dari beberapa anggota iaitu kedua tangan, kaki, mulut, mata, telinga, dan lain-lain yang sejenisnya. Masing-masing memiliki tugas dan misinya.
Demikian pula setiap muslim menunaikan tugasnya sesuai dengan potensi yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Dengan cara begitulah masyarakat Islam akan tercipta.
Ada sebuah kisah di mana ada seorang lelaki yang diberi julukan "Al-Mustami' " (pendengar) kerana ia bergaul dengan para aktivis dakwah yang lain hanya sebagai pendengar setia sahaja.
Namun setelah berkahwin dan mempunyai tiga orang anak lelaki, semua anaknya berjaya dalam pelajaran dan menjadi aktivis dakwah yang aktif. Mungkin ini merupakan balasan yang agung sehingga Allah swt membuka pintu hatinya.
Kita mesti sentiasa merenungkan ungkapan Rasulullah saw ketika dilemparkan batu oleh penduduk Tha'if, hingga kedua tumit beliau berdarah. Beliau tetap tabah dan terus berdoa.
Lalu datanglah Jibril kepada Rasulullah saw seraya mengucapkan salam dan berkata :
"Wahai Muhammad, Allah mengucap salam dan berpesan untukmu. Seandainya engkau mahu, aku akan timpakan dua gunung di Makkah ini kepada mereka!"
Rasulullah saw menjawab, "Tidak! Semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah!"
Hadits ini mengandungi pengertian yang mendalam, kerana Rasulullah saw menganjurkan kita tentang satu pelajaran yang amat agung, iaitu bahawa sikap optimis seseorang pendakwah lebih luas daripada batas-batas keduniaan ini.
Allah swt berfirman :
"Semoga Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Mumtahanah : 7)
BUKAN KITA YANG MENUNJUKI MEREKA
Kesan pertama yang ditinggalkan seorang pendakwah di hati "mad'u' (objek dakwah)nya adalah harapan akan masa depan.
Kelapangan dada dan terbukanya hati "mad'u" sangat tergantung pada besarnya pengaruh pertemuan pertama antara pendakwah dengan objek dakwahnya.
Oleh kerana itu, seorang pendakwah mesti diwarnai oleh ruh dakwah, baik secara kejiwaan mahupun perilaku.
Seorang pendakwah mesti benar-benar berorientasi kepada Allah swt dalam setiap langkahnya, agar dibukakan oleh Allah hatinya dan hati orang yang menjadi sasaran dakwahnya.
Apabila tujuannya tidak tercapai dan tidak mampu menembusi hati manusia melalui cara ini kerana setiap orang mempunyai keadaan berbeza yang tidak diketahui kecuali oleh Allah swt, maka ia mesti ingat firman Allah swt :
"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki- Nya." (QS Al-Baqarah : 272)
Dalam perkara ini, tersebut sebuah kisah yang pernah dialami oleh seorang pendakwah. Ia mempunyai seorang kawan yang sangat dicintainya, namun suatu ketika muncul pemikiran yang berbahaya dari diri kawannya.
Pendakwah itu berusaha untuk mengingatkan kawannya dengan memberi beberapa buku dan tulisan dengan harapan Allah berkenan untuk membuka hatinya hingga memiliki pandangan yang satu dan tetap saling mencintai. Namun, usahanya itu tidak berhasil.
Ketika pendakwah itu sedih atas kejadian yang berlaku, beliau terhibur ketika cuba
menghayati firman Allah swt :
"Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai, akan tetapi Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki- Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mahu menerima petunjuk." (QS Al-Qashash : 56)
Begitu lama pendakwah itu merenungkan perkataan "man ahbabta" (orang yang kamu cintai), sehingga akhirnya menyedarkan dirinya bahawa :
1. Cinta yang mendalam bukan penyebab datangnya hidayah.
Tetapi
2. Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya.
Seorang pendakwah yang mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan seperti yang disebut di atas tidak akan kembali lagi kepada orang yang sama.
Sebaliknya, ia akan mempelajarinya untuk beberapa waktu dan dia akan menilai kembali perkara tersebut bersama rakan-rakan pendakwah yang lain, setelah membekalkan diri dengan berbagai pengetahuan tentang :
a. Karakter.
b. Situasi.
c. Lingkungan.
Boleh jadi, sebahagian waktu lebih menguntungkan dari sebahagian waktu yang lain; atau sebahagian keadaan lebih menguntungkan daripada sebahagian keadaan yang lain.
Ramai orang yang memiliki keadaan peribadi tertentu yang membuatnya tidak mudah terbuka, tetapi setelah beberapa waktu berlalu, keadaannya berubah dan Allah memudahkan urusan serta membukakan hatinya.
Maka, kita sebagai seorang pendakwah tidak boleh bersikap tergesa-gesa ketika hendak memutuskan hubungan dengan seseorang, apalagi terhadap seorang objek dakwah.
Kita wajib memahaminya sehingga tidak terjebak dalam sikap putus asa dan mudah memutuskan hubungan.
Satu perkara lagi yang perlu diperingatkan kepada para pendakwah adalah :
"Penampilan seorang pendakwah mesti berseri-seri dan ceria dalam segala situasi dan keadaan".
Maka seorang pendakwah tidak boleh bermuka masam dan menarik muka sewaktu menghadapi seseorang, tetapi perlu berwajah ceria ketika menghadapi orang lain. Bahkan ia seharusnya sentiasa berlapang dada dan ceria sebagaimana sebuah pepatah :
"Carilah kebaikan di saat wajah sedang ceria".
Sesungguhnya dalam hati setiap orang tersimpan potensi besar bagi dakwah, kerana hati seseorang secara fitrah senang kepada semua yang menyambut dan melayaninya dengan baik.
Allah swt berfirman :
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Kerana telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?" (QS 'Abasa : 1-4)
Ya Allah, berilah kami kefahaman yang jelas dan benar tentang fiqh dakwah supaya kami dapat melaksanakan tugas ini dengan mudah dan tertib. Sesungguhnya kami hanya mampu untuk menyeru manusia kepadaMu namun hanya Engkaulah yang berkuasa memberi petunjuk dan hidayah kepada mereka. Kami yakin Engkau akan menolong hamba-hambaMu yang menolong menegakkan agamaMu.
Tuesday, February 14, 2012
Wasiat Terakhir Rasulullah SAW

Pada tahun ke 10 Hijrah ketika mengerjakan Hujjatul Wada’, Rasulullah SAW telah menyampaikan khutbahnya yang terakhir (Khutbah Wida’) di Padang Arafah. Baginda bertolak ke Arafah dari mina setelah naiknya matahari 9 Zulhijjah. Sebuah khemah didirikan untuk baginda dan baginda masuk serta berada di dalamnya sehingga tergelincir matahari (waktu zohor).
Selepas itu, baginda pun mengarahkan disiapkan untanya al-Qaswah, lalu menaikinya sehingga baginda tiba di Wadi Uranah. Di hadapan baginda, ribuan para sahabat mengelilingi baginda. Semuanya menanti penuh debar. Apakah ingin disampaikan baginda. Ramainya manusia yang berhimpun pada haji wida’ itu. Ada riwayat mengatakan jumlahnya mencecah 144,000 orang semuanya.
Baginda pun menyampaikan khutbahnya yang bersejarah:
“Segala puji bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, beristighfar dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung dengan-Nya daripada kejahatan diri dan keburukan amalan kita. Sesiapa yang Allah berikan hidayat kepadanya, maka tidak ada siapa yang boleh menyesatkannya. Sesiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada siapa yang boleh memberikan hidayat kepadanya. Aku menyaksikan bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku menyaksikan bahawa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Aku berpesan kepada kamu supaya mentaati-Nya. Aku membuka khutbahku ini dengan mukaddimah yang baik.
Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak kukatakan. Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu, dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini hari ini.
Wahai manusia, seperti mana kamu anggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak.
Janganlah kamu sakiti sesiapa pun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi. Ingatlah bahawa sesungguhnya, kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan di atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba, oleh itu, segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan sekarang.
Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikuti dalam perkara-perkara kecil.
Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu, mereka juga mempunyai hak di atas kamu.
Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu, maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan berlemah lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya, mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.
Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah sembahyang lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadan, dan tunaikanlah zakat daripada harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ibadah haji sekiranya kamu mampu.
Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama, tidak seorang pun yang lebih mulia daripada yang lainnya kecuali dalam takwa dan beramal soleh.
Ingatlah bahawa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari nanti untuk dipertanggungjawabkan di atas segala apa yang telah kamu kerjakan. Oleh itu, awasilah agar jangan sekali-kali kamu terkeluar daripada landasan kebenaran selepas ketiadaanku.
Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan ada lagi agama baru.
Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Quran dan sunahku.
Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku daripada mereka yang terus mendengar daripadaku.
Saksikanlah ya Allah, bahawasanya telah aku sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba-Mu.
Saturday, February 11, 2012
Rambut Rasulullah SAW
“Rambut Rasulullah saw mencapai pertengahan kedua telinganya.”
(Diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr, dari Ismail bin Ibrahim, dari Humaid yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
“Rasulullah saw. adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang,sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya.”(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Abu Qathan, dari Syu’bah dari Abi Ishaq yang bersumber dari al Bara’ bin `Azib r.a.)
“Rambut Rasulullah saw. tidak terlampau keriting, tidak pula lurus kaku, rambutnya mencapai kedua daun telingannya. ” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir bin Hazim, dari Hazim yang bersumber dari Qatadah)
“Sesungguhnya Rasulullah saw., dulunya menyisir rambutnya ke belakang,sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambut mereka ke kiri dan ke kanan,dan Ahlul Kitab menyisir rambutnya ke belakang. Selama tidak ada perintah lain,Rasulullah saw. Senang menyesuaikan diri dengan Ahlul Kitab.Kemudian,Rasulullah saw. menyisir rambutnya ke kiri dan ke kanan.”(Diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr dari `Abdullah bin al Mubarak, dari Yunus bin Yazid,dari az Zuhri, dari `Ubaidilah bin `Abdullah bin `Utbah, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)
CARA BERSISIR RASULULLAH SAW
“Rasulullah saw. sering meminyaki rambutnya, menyisir janggutnya dan sering waktu menyisir rambutnya beliau menutupi (bahunya) dengan kain kerudung. Kain kerudung itu demikian berminyak seakan-akan kain tukang minyak.” (Diriwayatkan oleh Yusuf bin’Isa, dari Rabi’ bin Shabih, dari Yazid bin aban ar Raqasyi*,yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
• Aban ar Raqasyi dikenal sebagai orang yang dinilai munkar periwayatannya. Hadist ini sangat berlawanan dengan kebanyakan hadist shahih, yang menerangkan tentang kebersihan dan penampilan terpuji dari Rasulullah saw. (Muhammad Afif az Za’bi).
“Rasulullah saw. melarang bersisir kecuali sekali-kali. ” (Diriwayatkan oleh Muhammad Basyar, dari Yahya bin Sa’id,dari Hisyam bin Hasan, dari al Hasan Bashri, yang bersumber dari `Abdullah bin Mughaffal r.a.*)
• Yang dilarang ialah bersisir layaknya wanita pesolek.
• ‘Abdullah bin Mughaffal r.a. dalah sahabat Rasulullah saw. Yang masyhur, ia adalah salah seorang peserta “Bai’tus Syajarah”, wafat pada tahun 60 H ada pula yang mengatakan tahun 57 H.
UBAN RASULULLAH SAW
Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik r.a.: “Pernahkah Rasulullah saw.menyemir rambutnya yang telah beruban?” Anas bin Malik menjawab:”Tidak sampai demikian. Hanya beberapa lembar uban saja di pelipisnya. Namun Abu Bakar r.a. pernah mewarnai (rambutnya yang memutih) dengan daun pacar dan katam.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud, dari Hamman yang bersumber dari Qatadah)
• Katam adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan untuk memerahi rambut sedangkan warnanya merah tua. Dalam suatu riwayat Ibnu `Abbas r.a. mengemukakan: Abu Bakar r.a. berkata:
“Wahai Rasulullah, sungguh Anda telah beruban!” Rasulullah saw. bersabda: “Surah Hud, Surah al Waqi’ah, Surah al Mursalat, Surah Amma Yatasa’alun dan Surah Idzasy-Syamsu kuwwirat, menyebabkan aku beruban.” (Diriwayatkan oleh Abu Kuraib Muhammad bin al A’la, dari Mu’awiyah bin Hisyam, dari Syaiban, dari Ishaq, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.) “Wahai Rasulullah, kami melihat Anda sesungguhnya telah beruban!” Rasulullah saw. bersabda: “Surah Hud dan beberapa surah sebangsanya telah menyebabkan aku beruban.”
(Diriwayatkan oleh Sufyan bin Waki’, dari Muhammad bin Basyar, dari ‘Ali bin Shalih, dari Abi Ishaq yang bersumber dari Abi Juhaifah r.a.*)
• Abu Juhaifah adalah Wahab as Sawa’ bin `Amir bin Sha’sha’ah al Kufi. Ia adalah seorang sahabat yang masyhur. Menurut al Dzahabi, ia adalah rawi yang tsiqat (kuat hapalan dan terpercaya). Ia wafat pada tahun 74 H.
SEMIR RAMBUT RASULULLAH SAW
Al Jahdzamah r.a., isteri Busyair bin al Khaskhashiyyah pernah bercerita: “Aku melihat Rasulullah saw. keluar dari rumahnya mengibaskan rambut sehabis mandi. Dan di kepalanya terdapat bekas daun inai”, atau “bekas celupan”(rawi ragu). (Diriwayatkan oleh Ibrahim bin Harun, dari Nadlr bin Zararah*, dari Abi Jinab*, dari Iyad bin Laqith, yang bersumber dari Jahdzamah r.a.)
• Nadlr bin Zararah dalah rawi yang dla’if dan termasuk Matruk.
• Ali Jinab dikenal sebagai rawi yang masyhur tapi ia dianggap dla’if karena sering menyamarkan rawi. “Aku melihat rambut Rasulullah saw. dipacari merah.” (Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari `Amr bin `Ashim, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas r.a.)
CELAK MATA RASULULLAH SAW
Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a. dikemukakan: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Bercelaklah kalian dengan Itsmid*, karena ia dapat mencerahkan pengliahatan dan menumbuhkan bulu mata. Sungguh Nabi saw. Mempunyai tempat celak mata yang digunakannya untuk bercelak pada setiap malam. Tiga olesan di sini dan tiga olesan di sini.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Humaid ar Razi, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Abbad bin Manshur, dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)
• Itsmid adalah batu celak biasanya berupa serbuk. Warnanya hitam atau biru. Serbuk itsmid dioleskan pada bulu mata atau disapukan di sekeliling mata.
• Yang dimaksud di sini adalah tiga olesan di mata sebelah kanan dan tiga olesan di mata sebelah kiri.
Bentuk Tubuh Rasulullah SAW

“Rasulullah saw. bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah (menjadi rasul) dalam usia empat puluh tahun.
Beliau tingal di Mekkah (sebagai Rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah dalam usia enam puluh tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih.” (diriwayatkan oleh Abu Raja’ Qutaibah bin Sa’id, dari Malik bin Anas, dari Rabi’ah bin Abi `Abdurrahman yang bersumber dari Anas bin Malik r.a)
• Anas bin Malik r.a adalah Abu Nadhr Anas bin Malik al Anshari al Bukhari al Khazraji. Ia tinggal bersama Rasulullah saw dan membantu Beliau selama sepuluh tahun.Dan ia adalah sahabat yang paling akhir meninggal dunia di Bashrah, yaitu pada tahun 71 H.
• Perawi menghilangkan bilangan satuannya dari puluhan (digenapkan) . Karena kebanyakan riwayat menyatakan bahwa Rasulullah saw tinggal di Mekkah sebagai Rasul 13 tahun, dan wafat pada usia 63 tahun.
“Aku tak pernah orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya.Kedua bahunya bidang. beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi.” (diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’,dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin `Azib r.a)
“Rasulullah saw tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek.Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambut tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerahmerahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan akan Beliau turun ke tempat yang rendah.
Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khatamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantar semua orang.
Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan.Barang siapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barang siapa pernah berkumpul dengannya kemudian kenal dengannya tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: “Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau saw.” (Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr dan Abu Ja’far bin Muhammad bin al Husein, dari `Isa bin Yunus, dari `Umar bin `Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w. yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.)
“Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki laki dari suku Syanu’ah. Kulihat pula Nabi `Isa bin Maryan a.s.ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah `Urwah bin Mas’ud,Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu Nabi saw sendiri). Kulihat jibril ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah*.” (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’ad dari Laits bin Sa’id, dari Abi Zubair yang bersumber dari Jabir bin `Abdullah r.a.)
• Suku Syanu’ah terdapat di Yaman perawakan mereka sedang.
• Urwah bin Mas’ud as Tsaqafi adalah sahabat Rasulullah saw ia memeluk islam pada tahun 9 H.
• Dihyah adalah seorang sahabat Rasulullah saw yang mengikuti jihad fi sabilillah setelah perang Badar. Ia pun merupakan salah seorang pengikut Bai’atur Ridlwan yang bersejarah.
“Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu.” (Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari `Abdul `Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin `Uqbah, dari Kuraib yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)
§ BENTUK KHATAMUN NUBUWAH.
“Aku pernah melihat khatam (kenabian)…. Ia terletak antara kedua bahu Rasulullah saw. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara.” (Diriwayatkan oleh Sa’id bin Ya’qub at Thalaqani dari Ayub bin Jabir, dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)
“Apabila `Ali k.w. menceritakan sifat Rasulullah saw. maka ia akan bercerita panjang lebar. Dan ia akan berkata: `Diantara kedua bahunya terdapat Khatam kenabian, yaitu khatam para Nabi. (Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi `Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari `Umar bin `Abdullah, dari `Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w.)
Dalam suatu riwayat, Alba’bin Ahmar al Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid `Amr bin Akhthab al Anshari r.a. sbb: “Abu Zaid berkata: `Rasulullah saw bersabda kepadaku : `Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah punggungku’. Maka punggungnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khatam. Aku (alba’ bin Ahmar al Yasykuri) bertanya kepada Abu Zaid: `Apakah Khatam itu?’ Abu Zaid menjawab: `kumpulan bulu-bulu*’. (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu `Ashim dari `Uzrah bin Tsabit yang bersumber dari Alba’bin Ahmar al Yasykuri)
• Ia mengatakan kumpulan bulu-bulu dikarenakan ia hanya dapat merasakan dengan rabaan tangannya saja, tidak melihat dengan mata kepala. Jadi yang dikatakan itu hanya berdasar rabaan belaka, yang teraba olehnya adalah bulu yang tumbuh di sekitar Khatam
Cara Bicara Rasulullah SAW

“dengan kata-kata yang jelas dan tegas. Orang yang duduk bersamanya akan dapat menghafal (kata-katanya)menghafal (kata-katanya)”
(Diriwayatkan oleh Humaid bin Mas’adah al Bashriyyi, dari Humaid al Aswad, dari Usamah bin Zaid, dari Zuhri, dari `Urwah, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
“Rasulullah saw. suka mengulang kata-kata yang diucapkannya sebanyak tiga kali agar dapat dipahami.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Abu Qutaibah –Muslim bin Qutaibah-. dari `Abdullah bin al Mutsani, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
§ CARA RASULULLAH SAW TERTAWA
“Betis Rasulullah saw kecil (tidak gemuk). Beliau tidak tertawa kecuali tersenyum.Bila aku memandangkepadanya, aku berkata (dalam hati); “Betapa hitam pelupuk matanya, padahal tidak dihitami.”(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari `Abbad bin al `Awwam, dari al Hajjaj –Ibnu Arthah-*, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)
• Al Hajjaj (Ibnu Arthah) didla’ifkan oleh jamaah “Tiadalah tertawa Rasulullah saw kecuali tersenyum.”(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Khalid al Khilal, dari Yahya bin Ishaq, as Sailihani, dari Laits bin Sa’id, dari Yazid bin Abi Habib, yang bersumber dari`Abdullah bin al Harits r.a)
§ MINYAK WANGI RASULULLAH SAW
“Rasulullah saw. bersabda :”Wewangian laki-laki ialah yang harum baunya dan tersembunyi warnanya. Sedangkan wewangian wanita ialah yang cemerlang warnanya dan tersembunyi baunya.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Daud al Hafariyyi, dari Sufyan, dari al Jurairi, dari Abi Nadhrah, dari seseorang*, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)
• Dalam riwayat lain yang juga bersumber dari Abu Hurairah r.a., sanadnya adalah:Diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr, dari Isma’il bin Ibrahim, dari al Jurairi, dari Abi Nadhrah, dari at Thawafi, yang bersumber dari Abu hurairah r.a.
§ KELAKAR RASULULLAH SAW
“Sesungguhnya Rasulullah saw. bergaul akrab dengan kami, sehingga beliau bersabda kepada adikku yang masih kecil :”Wahai Abu `Umair (bapak Umair), apa yang dapat dikerjakan burung sekecil itu?”(Diriwayatkan oleh Hannad bin asSariyyi, dari Waki’, dari Syu’bah, dari Abit Tayyah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
• Ia adalah saudara seibu Anas bin Malik r.a., namanya adalah Ibnu Abi Thalhah Zaid bin Sahl al Anshari, sedangkan ibu bagi keduanya adalah Ummu Sulaim binti Malhan. Ibnu Abi Thalhah (Abu `Umair) wafat sewaktu masih kecil yakni dimasa Nabi saw. masih hidup.
• Imam Tirmidzi berkata :” Maksud Hadist ini, Rasulullah saw. bergurau. Di dalam pergurauannya, beliau memberi gelar kepad seorang anak kecil dengan sebutan bapak:”Wahai Abu `Umair (Wahai bapak `Umair). Pada hadist inipun terdapat suatu hukum,bahwa memberi mainan kepada anak-anak berupa burung tidak apa-apa. Nabi saw.
bersabda: “Wahai Abu `Umair apa yang dapat dikerjakan oleh burung sekecil itu ?”Maksudnya adalah : Anak kecil itu mempunyai burung kecil sebagai mainannya. Kemudian burung itu mati , maka anak tersebut berduka cita karenanya. Untuk mengobati dukanya Nabi saw bersenda gurau kepadanya.
“Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah! apakah Anda suka bergurau kepada kami?” Beliau bersabda : “Benar! Hanya saja apa yang kukatakan, tidak lain hanyalah kebenaran.”(Diriwayatkan oleh `Abbas bin Muhammad ad Duri, dari `Ali bin al Hassan bin Syaqiq, dari `Abdullah bin al Mubarak, dari Usamah Ibnu Zaid, dari Sa’id al Maqbari, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)
§ SYI’IR YANG DIBACA RASULULLAH SAW
Aisyah r.a. bertanya :”Apakah Rasulullah saw. pernah membaca syi’ir?” Ia menjawab : “Beliau pernah membaca Syi’ir Ibnu Rawahah r.a.dan juga pernah membaca syi’ir yang berbunyi: “Berita-berita akan datang kepadamu Dibawa oleh orang yang tak kau beri bekal.”(Diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr, dari Syarik, dari al Miqdambin Syuraih, dari bapaknya,yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
• Permulaan baitnya berbunyi: Hari demi hari akan menyingkap kejelasan bagimu. Walau kau sebelumnya tidak tahu.
Rasulullah saw. bersabda :”Syi’ir yang terbaik (paling benar) yang pernah dibacakan seorang penya’ir adalah Syi’ir Labid* (bin Abi Rabi’ah al Amiri), yang berbunyi: “Ingat! Segala sesuatu selain Allah pasti binasa.” Dan hampir saja Ummayah bin Abis Shalt* menjadi muslim (karena syi’ir-syi’irnya) .”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan as Tsauri, dari `Abdul Malik bin`Umair,dari Abu Salamah,yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)
• Pada masa jahiliyah, Labid adalah seorang yang mulia demikian pula setelah ia masuk Islam. Ia merupakan penyair Arab yang terkenal saat itu. Namun setelah turun ayat-ayat Al-Qur’an ia berhenti membuat syi’ir dan ia hanya mencukupkan dengan al-Qur’an saja. Ia wafat pada tahun 41 H pada usia 140 tahun.
• Tentang Ummayah bin Abis Shalt, Rasulullah pernah bersabda: “Syi’irnya beriman, namun hatinya tetap kafir.”
“Aku pernah berada di belakang Nabi saw. (dibonceng), kepadanya kubacakan seratus qafiah (sajak) Syi’ir gubahanUmmayah bin Abis Shalt as Tsaqaf.Manakala kubacakan kepadanya sebait syi’ir, Nabi saw. bersabda : “Tambahkan lagi!” Sehingga kepadanya kubacakan seratus bait syi’ir, kemudian Nabi saw bersabda : “Sesungguhnya Ummayah itu hampir saja menjadi muslim.”(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Marwan bin Mu’awiyah*, dari `Abdullah bin `Abdurrahman at Thaifi, dari `Amr bin Syarid, yang bersumber dari ayahnya)
• Marwan bin Mu’awiyah bin Harits al kufi, ia dinyatakan tsiqat oleh jamaah. ia wafat tahun 193 H.
“Rasulullah saw. meletakkan mimbar untuk Hasan bin Tsabit di dalam masjid agar ia bersyi’ir yang membesarkan hati Rasulullah saaw., atau (perawi ragu) agar ia mempertahankan Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah swt. menolong Hasan lewat Jibril tatkala ia mempertahankan (atau membesarkan hati) Rasulullah saw. (dengan syi’irnya)” (Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Fazari, dan diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr (semakna), keduanya menerima dari `Abdurrahman bin Zinad, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya (`Urwah), yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
